MAKALAH
PRAKARYA DAN KEWIRAUSAHAN
TAHUN
PELAJARAN
2015/2016
KATA PENGANTAR
Puji serta syukur marilah kita panjatkan kepada kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan begitu banyak nikmat yang mana makhluk-Nya pun tidak akan menyadari
begitu banyak nikmat yang telah didapatkan dari Allah SWT. Selain itu, penulis
juga merasa sangat bersyukur karena telah mendapatkan hidayah-Nya baik iman
maupun islam.
Dengan nikmat dan hidayah-Nya pula kami dapat menyelesaikan penulisan makalah
ini yang merupakan tugas mata kuliah Kewirausahhan. Penulis sampaikan
terimakasih sebesar-besarnya kepada guru mata pelajaran Kewirausahaandan semua
pihak yang turut membantu proses penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari dalam makalah ini masih begitu banyak kekurangan-kekurangan
dan kesalahan-kesalahan baik dari isinya maupun struktur penulisannya, oleh
karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran positif untuk perbaikan
dikemudian hari.
Demikian semoga makalah ini memberikan manfaat umumnya pada para pembaca dan
khususnya bagi penulis sendiri. Amin.
Bandar Lampung , 24 Februari 2015
Kelompok 1
DAFTAR ISI
Judul
Makalah............................................................................................................................1
Kata
Pengantar...........................................................................................................................2
Daftar
Isi....................................................................................................................................3
BAB I
PENDAHULUAN.........................................................................................................4
Latar
Belakang...........................................................................................................................4
Rumusan
Masalah......................................................................................................................4
Tujuan.........................................................................................................................................4
BAB II
PEMBAHASAN...........................................................................................................5
Pengawetan dengan suhu
rendah................................................................................................5
Pengawetan dengan suhu
tinggi.................................................................................................6
Pengawetan dengan
pengeringan...............................................................................................7
Pengawetan dengan bahan
kimia...............................................................................................8
BAB III
KESIMPULAN........................................................................................................................9
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pengawetan makanan/minuman dapat dilakukan dengan berbagai macam
cara : pendinginan/pembekuan, pengeringan, pengasapan, penggaraman, pemanasan
(pasteurisasi, sterilisasi) dan penambahan bahan pengawet kimia. Semua cara
tersebut mempunyai tujuan yang sama, yaitu untuk menhancurkan atau mengahmbat
pertumbuhan mikroba pembusuk. Dalam hal makanan kaleng atau minuman dalam
karton, maka cara pengawetan yang dilakukan adalah dengan proses pemanasan
(sterilisasi).
Pengalengan merupakan cara pengawetan bahan pangan dalam wadah
yang tertutup rapat dan disterilkan dengan panas. Cara pengawetan ini merupakan
yang paling umum dilakukan karena bebas dari kebusukan, serta dapat
mempertahankan nilai gizi, cita rasa dan daya tarik. Proses pemanasan kaleng
yang dianggap aman adalah yang dapat menjamin bahan makanan tersebut telah
bebas dari karena bakteri tersebut menghasilkan toksin yang mematikan dan
paling tahan terhadap pemanasan.
Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah teknik pengolahan
dan pengawetan bahan nabati dan hewani yang ideal bagi masyarakat?
2. Alat pengawetan bahan hewani dan
nabati?
3. Bagaimana prosers
pengawetan bahan hewani dan nabati?
Tujuan
1. Untuk mengetahui
bagaiman teknik dan cara pengolahan dan pengawetan bahan nabati
dan hewani yang ideal pada masyarakat
2. Untuk mengetahui bagaimana cara penyajian produk
bahan hewani dan nabati
3. Untuk mengetahui bagaimana cara pengemasan produk pengawetan
bahan hewani dan
nabati
BAB II
PEMBAHASAN
Pangan secara umum bersifat mudah rusak (perishable),
karena kadar air yang terkandung di dalamnya sebagai faktor utama penyebab
kerusakan pangan itu sendiri. Semakin tinggi kadar air suatu pangan, akan
semakin besar kemungkinan kerusakannya baik sebagai akibat aktivitas biologis
internal (metabolisme) maupun masuknya mikroba perusak. kriteria yang dapat
digunakan untuk menentukan apakah makanan tersebut masih pantas di konsumsi,
secara tepat sulit di laksanakan karena melibatkan factor-faktor nonteknik,
sosial ekonomi, dan budaya suatu bangsa. Idealnya, makanan tersebut harus:
bebas polusi pada setiap tahap produksi dan penanganan makanan, bebas dari
perubahan-perubahan kimia dan fisik, bebas mikroba dan parasit yang dapat
menyebabkan penyakit atau pembusukan (Winarno,1993).
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 menyatakan bahwa kualitas pangan
yang dikonsumsi harus memenuhi beberapa kriteria, di antaranya adalah aman,
bergizi, bermutu, dan dapat terjangkau oleh daya beli masyarakat.
Secara umum, bahan hasil pertanian,
peternakan, dan perikanan setelah dipanen akan mudah mengalami kerusakan
sehingga terjadi penurunan mutu. Untuk menjaga kualitas bahan pangan dan
produknya, maka bahan pangan tersebut perlu dilakukan pengolahan dan
pengawetan. Ada beberapa metode peng- awetan pangan yaitu dengan cara
menonaktifkan, menghambat dan mencegah faktor-faktor penyebab kerusakan pangan.
Setiap metode pengawetan pangan hanya akan berhasil jika mekanisme peng- awetannya
tepat dan sesuai. Bahan pangan hasil pertanian
masing-masing mempunyai sifat-sifat
yang berbeda-beda yang penting untuk diketahui untuk digunakan sebagai dasar
saat proses penanganan dan pengolahan.
Dengan mengetahui sifat setiap bahan pangan, diharapkan proses penanganan dan
pengolahan akan tepat dan sesuai. Beberapa metode untuk pengawetan bahan pangan
adalah sebagai berikut.
1. Pengawetan dengan Suhu Rendah
Salah satu proses usaha untuk
mengawetkan adalah dengan menyimpan bahan makanan di dalam lemari pendingin
yaitu kulkas atau freezer (pembeku). Lemari pendingin
memiliki suhu yang rendah. Umumnya yang dimaksud dengan suhu rendah ini
berkisar antara -2°C sampai 8°C. Cara pengawetan pangan dengan suhu rendah ada
2 macam yaitu pendi- nginan
(cooling) dan pembekuan (freezing). Pendinginan yang biasa dilakukan
sehari-hari dalam lemari es pada umumnya mencapai suhu 5 sampai 8 C atau -2
sampai 8 C. Pembekuan adalah penyimpanan bahan pangan dalam keadaan beku.
Pembekuan yang baik biasanya dilakukan pada suhu -12 sampai -24 C. Pembekuan
cepat (quick freezing) dilakukan pada suhu -24 sampai -40 C.
Buah-buahan dan sayur-sayuran juga
memerlukan suhu penyimpanan tertentu. Suhu di mana produk mempunyai keawetan
yang paling lama disebut suhu optimum. Jika penyimpanan dilakukan di
bawah suhu optimum, atau di tempat yang terlalu dingin, buah-buahan dan
sayur-sayuran akan mengalami kerusakan fisik yang sering disebut chilling injury. Apabila
penyimpanan buah dan sayuran dilakukan di atas suhu optimum, atau pada suhu
yang terlalu hangat, juga tidak akan menghasilkan keawetan.
2. Pengawetan dengan Suhu Tinggi
Pengawetan
dengan suhu panas sebenarnya sudah lama digunakan, sejak manusia dikenalkan
dengan istilah memasak. Saat kamu memasak, misalnya merebus atau menggoreng
suatu bahan makanan, sebenarnya kamu sedang melakukan proses pengawetan dengan
suhu panas. Tetapi seringkali kita tidak mengetahui batasan pemanasan yang
dilakukan terhadap makanan. Jika pemanasannya tidak tepat, maka
akan banyak nilai gizi yang hilang dari makanan yang dimasak tersebut.
Pemanasan yang baik adalah secukupnya agar nilai gizi yang hilang tidak terlalu
banyak. Dua faktor yang harus diperhatikan dalam pengawetan dengan panas, yaitu
sebagai berikut.
1) Jumlah panas yang diberikan harus cukup
untuk mematikan mikroba pembusuk dan mikroba pathogen.
2) Jumlah panas yang digunakan tidak boleh
menyebabkan penurunan gizi dan cita rasa makanan.
Jumlah panas yang
diberikan dalam proses pengolahan pangan tidak boleh lebih dari jumlah minimal
panas yang dibutuhkan untuk membunuh mikroba yang dimaksud. Dalam proses
pemanasan, ada hubungan antara panas dan waktu, yaitu jika suhu yang digunakan
rendah, maka waktu pemanasan harus lebih lama. Jika suhu tinggi, waktu pemanasan
singkat. Sebagai contoh:
misalnya jumlah panas yang diterima bahan
jika kita memanaskan selama 10 jam di dalam air mendidih (100 C) kira-kira sama
dengan memanaskan bahan tersebut selama 20 menit pada suhu 121 C.
Berdasarkan penggunaan suhu, waktu dan tujuan pemanasan, proses pemanasan dapat
dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu proses pasteurisasi dan sterilisasi.
a.Sterilisasi
Istilah sterilisasi berarti membebaskan
bahan dari semua mikroba. Karena beberapa spora bakteri relatif lebih
tahan terhadap panas. Maka sterilisasi biasanya dilakukan pada suhu yang
tinggi misalnya 121 C (250 F) selama 15 menit. Pada makanan dikenal istilah
sterilisasi komersial. Sterilisasi komersial adalah sterilisasi yang biasanya
dilakukan terhadap sebagian besar pangan di dalam kaleng atau botol.
Makanan yang steril secara komersial berarti semua mikroba penyebab penyakit
dan pembentuk racun (toksin) dalam makanan tersebut telah dimatikan, demikian
juga semua mikroba pembusuk. Dengan demikian, produk pangan yang telah
mengalami sterilisasi akan mempunyai daya awet yang tinggi; beberapa bulan
sampai beberapa tahun.
b. Pasteurisasi
Pasteurisasi adalah suatu proses
pemanasan yang relatif cukup rendah (umumya dilakukan di bawah 100 C) dengan
tujuan untuk mengurangi populasi mikroorganisme pembusuk sehingga bahan pangan
yang dipasteurisasi tersebut akan mempunyai daya awet beberapa hari (misalnya produk
susu pasteurisasi) sampai beberapa bulan (misalnya produk sari buah
pateurisasi). Walaupun proses ini hanya mampu membunuh sebagian populasi
mikroorganisme, namun pasteurisasi ini sering diaplikasikan terutama jika
dikhawatirkan bahwa penggunaan panas yang lebih tinggi akan menyebabkan
terjadinya kerusakan mutu (misalnya pada susu).
Tujuan utama proses pemanasan hanyalah
untuk membunuh mikro-organisme pathogen (penyebab penyakit; misalnya pada susu)
atau inaktivasi (menghentikan aktivitas) enzim-enzim yang dapat merusak mutu
(misalnya pada sari buah).
Makanan yang dipasteurisasi tidak dapat
menyebabkan penyakit tetapi mempunyai masa simpan yang terbatas disebabkan
mikroba nonpatogen dan pembusuk masih ada dan dapat berkembang biak. Oleh
karena itu pasteurisasi biasanya disertai dengan cara pengawetan lain, misalnya
makanan yang dipasteurisasi kemudian disimpan dengan cara pendinginan (di dalam
lemari pendingin).
c. Blanching
Blanching adalah pemanasan
pendahuluan yang biasanya dilakukan terhadap buah-buahan dan sayur-sayuran
untuk menginaktifkan enzim-enzim di dalam bahan pangan tersebut, di antaranya
adalah enzim katalase dan peroksidase yang merupakan enzim-enzim yang paling
tahan panas di dalam sayur-sayuran. Blanching selalu dilakukan jika bahan pangan
akan dibekukan karena pembekuan tidak dapat menghambat keaktifan enzim dengan
sempurna. Bergantung pada panas yang diberikan, blanching juga dapat mematikan
beberapa mikroba. Blanching biasanya dilakukan pada
d. Sterilisasi Produk secara Sinambung
(Proses Aseptis) Pada prinsipnya, proses
sterilisasi dapat dilakukan dengan berbagai kombinasi suhu dan waktu. Jika
digunakan suhu yang lebih tinggi,
waktu
sterilisasinya makin pendek. Diketahui bahwa kombinasi suhu yang lebih tinggi
dan waktu pendek ini dapat memberikan keuntungan berupa mutu produk yang lebih
baik. Karena itulah, muncul konsep sterilisasi High Temperatur Short Time
(HTST) dan Ultra High Temperature (UHT). Pada kondisi ini, sterilisasi
dilakukan pada suhu 130-145 C tetapi hanya dalam beberapa detik saja. Karena
itu, diperlukan peralatan pemanasan yang mampu men- capai suhu tersebut dan
sekaligus secara cepat mampu mendinginkannya kembali. Pada sistem aseptik ini,
dilakukan proses sterilisasi produk pangan dan bahan pengemas (wadah) secara
terpisah. Pengisisan produk dilakukan setelah wadah dan produk terlebih dahulu
disterilisasikan sehingga untuk mempertahankan sterilitas produk dan wadah,
proses pengisian harus dilakukan pada ruangan yang steril. Karena itulah,
proses pengisian dan pengemasan dengan cara ini disebut sebagai proses
pengemasan aseptik karena memang diperlukan kondisi yang aseptik.
3. Pengawetan dengan Pengeringan
Saat petani padi tiba
waktunya untuk memanen hasil bertaninya, pernahkan kamu melihat hal apa yang dilakukan
petani tersebut dengan padi hasil panennya? Pernahkah kamu melihat petani
tersebut menjemur padi di bawah sinar matahari? Itulah salah satu contoh proses
pengeringan. Pengeringan adalah suatu metode untuk mengeluarkan atau
menghilangkan sebagian air dari suatu bahan dengan cara menguapkan air tersebut
dengan menggunakan energi panas. Biasanya kandungan air bahan tersebut
dikurangi sampai suatu batas agar mikroba tidak dapat tumbuh lagi di
dalamnya. Keuntungan produk hasil pengeringan adalah awet, lebih ringan,
volume lebih kecil sehingga memudahkan penyimpanan dan transportasi,
serta menimbulkan citarasa khas. Selain itu, banyak bahan yang hanya dapat
digunakan apabila telah dikeringkan, misalnya tembakau, kopi, teh, biji-bijian,
dan lain- lainnya. Pengeringan dapat berlangsung dengan baik jika
pemanasan secara merata, dan uap air dikeluarkan dari seluruh permukaan bahan
tersebut. Faktor-faktor yang memengaruhi pengeringan terutama adalah luas
permukaan bahan, suhu pengeringan, aliran udara, dan tekanan uap di udara.
Pengeringan dapat dilakukan dengan menggunakan suatu alat pengering (articial
drier), atau dengan
penjemuran (sun drying), yaitu pengeringan dengan menggunakan energi
langsung dari sinar matahari.
Pengeringan buatan (articial drying) mempunyai
keuntungan karena suhu dan aliran udara dapat diatur sehingga waktu pengeringan
dapat ditentukan dengan tepat dan kebersihan dapat diawasi sebaik-baiknya.
Penjemuran mempunyai keuntungan karena energi panas yang digunakan murah dan
bersifat murah serta melimpah, tetapi kerugiannya adalah jumlah panas sinar
matahari yang tidak tetap sepanjang hari, dan kenaikan suhu tidak dapat diatur
sehingga waktu penjemuran sukar untuk ditentukan dengan tepat. Selain itu,
karena penjemuran dilakukan di tempat terbuka yang langsung berhubungan dengan
sinar matahari, kebersihannya harus diawasi dengan sungguh-sungguh. Kadar
air suatu bahan yang dikeringkan memengaruhi seberapa jauh penguapan dapat
berlangsung, lamanya proses pengeringan dan jalannya proses pengeringan.
4. Pengawetan dengan Bahan Kimia
Pengawetan bahan pangan
dapat juga dilakukan dengan melakukan penambahan bahan kimia tertentu, yang
telah diketahui memiliki efek mengawetkan. Penggunaan bahan kimia untuk
pengawet harus digunakan dalam takaran yang tepat dan sesuai dengan ketentuan
agar aman bagi manusia.Pemberian Asam, Asam dapat menurunkan pH makanan
sehingga dapat menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk. Asam dapat dibagi dalam
3 golongan yaitu:
(1) asam alami yang pada umumnya adalah
asam organik misalnya asam tartrat dan asam dari buah-buahan, misalnya asam
sitrat seperti yang terdapat pada jeruk nipis dan belimbing wuluh;
(2) asam yang dihasilkan melalui proses
fermentasi, misalnya asam laktat dan asam asetat; dan
(3) asam-asam sintetik, misalnya asam
malat, asam fosfat, dan asam adipat. Cuka adalah asam sintetik yang dapat kita
temui sehari-hari.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pangan secara umum bersifat mudah rusak (perishable),
karena kadar air yang terkandung di dalamnya sebagai faktor utama penyebab
kerusakan pangan itu sendiri. Semakin tinggi kadar air suatu pangan, akan
semakin besar kemungkinan kerusakannya baik sebagai akibat aktivitas biologis
internal (metabolisme) maupun masuknya mikroba perusak.
untuk mengawetkan makanan dapat dilakukan dengan beberapa teknik
baik yang menggunakan teknologi tinggi maupun teknologi sederhana. Caranya pun
beragam dengan berbagai tingkat kesulitan. Namun inti dari pengawetan makanan
adalah suatu upaya untuk menahahn laju pertumbuham mikroorganisme pada makananm
jenis-jenis teknik pengolahan dan pengawetan makanan itu ada 5 :
1. pendinginan
2. pengeringan
3. pengalengan
4. pengemasan
5. penggunaan
bahan kimia
6. pemanasan
TAHUN
PELAJARAN
2015/2016
KATA PENGANTAR
Puji serta syukur marilah kita panjatkan kepada kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan begitu banyak nikmat yang mana makhluk-Nya pun tidak akan menyadari
begitu banyak nikmat yang telah didapatkan dari Allah SWT. Selain itu, penulis
juga merasa sangat bersyukur karena telah mendapatkan hidayah-Nya baik iman
maupun islam.
Dengan nikmat dan hidayah-Nya pula kami dapat menyelesaikan penulisan makalah
ini yang merupakan tugas mata kuliah Kewirausahhan. Penulis sampaikan
terimakasih sebesar-besarnya kepada guru mata pelajaran Kewirausahaandan semua
pihak yang turut membantu proses penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari dalam makalah ini masih begitu banyak kekurangan-kekurangan
dan kesalahan-kesalahan baik dari isinya maupun struktur penulisannya, oleh
karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran positif untuk perbaikan
dikemudian hari.
Demikian semoga makalah ini memberikan manfaat umumnya pada para pembaca dan
khususnya bagi penulis sendiri. Amin.
Bandar Lampung , 24 Februari 2015
Kelompok 1
DAFTAR ISI
Judul
Makalah............................................................................................................................1
Kata
Pengantar...........................................................................................................................2
Daftar
Isi....................................................................................................................................3
BAB I
PENDAHULUAN.........................................................................................................4
Latar
Belakang...........................................................................................................................4
Rumusan
Masalah......................................................................................................................4
Tujuan.........................................................................................................................................4
BAB II
PEMBAHASAN...........................................................................................................5
Pengawetan dengan suhu
rendah................................................................................................5
Pengawetan dengan suhu
tinggi.................................................................................................6
Pengawetan dengan
pengeringan...............................................................................................7
Pengawetan dengan bahan
kimia...............................................................................................8
BAB III
KESIMPULAN........................................................................................................................9
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pengawetan makanan/minuman dapat dilakukan dengan berbagai macam
cara : pendinginan/pembekuan, pengeringan, pengasapan, penggaraman, pemanasan
(pasteurisasi, sterilisasi) dan penambahan bahan pengawet kimia. Semua cara
tersebut mempunyai tujuan yang sama, yaitu untuk menhancurkan atau mengahmbat
pertumbuhan mikroba pembusuk. Dalam hal makanan kaleng atau minuman dalam
karton, maka cara pengawetan yang dilakukan adalah dengan proses pemanasan
(sterilisasi).
Pengalengan merupakan cara pengawetan bahan pangan dalam wadah
yang tertutup rapat dan disterilkan dengan panas. Cara pengawetan ini merupakan
yang paling umum dilakukan karena bebas dari kebusukan, serta dapat
mempertahankan nilai gizi, cita rasa dan daya tarik. Proses pemanasan kaleng
yang dianggap aman adalah yang dapat menjamin bahan makanan tersebut telah
bebas dari karena bakteri tersebut menghasilkan toksin yang mematikan dan
paling tahan terhadap pemanasan.
Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah teknik pengolahan
dan pengawetan bahan nabati dan hewani yang ideal bagi masyarakat?
2. Alat pengawetan bahan hewani dan
nabati?
3. Bagaimana prosers
pengawetan bahan hewani dan nabati?
Tujuan
1. Untuk mengetahui
bagaiman teknik dan cara pengolahan dan pengawetan bahan nabati
dan hewani yang ideal pada masyarakat
2. Untuk mengetahui bagaimana cara penyajian produk
bahan hewani dan nabati
3. Untuk mengetahui bagaimana cara pengemasan produk pengawetan
bahan hewani dan
nabati
BAB II
PEMBAHASAN
Pangan secara umum bersifat mudah rusak (perishable),
karena kadar air yang terkandung di dalamnya sebagai faktor utama penyebab
kerusakan pangan itu sendiri. Semakin tinggi kadar air suatu pangan, akan
semakin besar kemungkinan kerusakannya baik sebagai akibat aktivitas biologis
internal (metabolisme) maupun masuknya mikroba perusak. kriteria yang dapat
digunakan untuk menentukan apakah makanan tersebut masih pantas di konsumsi,
secara tepat sulit di laksanakan karena melibatkan factor-faktor nonteknik,
sosial ekonomi, dan budaya suatu bangsa. Idealnya, makanan tersebut harus:
bebas polusi pada setiap tahap produksi dan penanganan makanan, bebas dari
perubahan-perubahan kimia dan fisik, bebas mikroba dan parasit yang dapat
menyebabkan penyakit atau pembusukan (Winarno,1993).
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 menyatakan bahwa kualitas pangan
yang dikonsumsi harus memenuhi beberapa kriteria, di antaranya adalah aman,
bergizi, bermutu, dan dapat terjangkau oleh daya beli masyarakat.
Secara umum, bahan hasil pertanian,
peternakan, dan perikanan setelah dipanen akan mudah mengalami kerusakan
sehingga terjadi penurunan mutu. Untuk menjaga kualitas bahan pangan dan
produknya, maka bahan pangan tersebut perlu dilakukan pengolahan dan
pengawetan. Ada beberapa metode peng- awetan pangan yaitu dengan cara
menonaktifkan, menghambat dan mencegah faktor-faktor penyebab kerusakan pangan.
Setiap metode pengawetan pangan hanya akan berhasil jika mekanisme peng- awetannya
tepat dan sesuai. Bahan pangan hasil pertanian
masing-masing mempunyai sifat-sifat
yang berbeda-beda yang penting untuk diketahui untuk digunakan sebagai dasar
saat proses penanganan dan pengolahan.
Dengan mengetahui sifat setiap bahan pangan, diharapkan proses penanganan dan
pengolahan akan tepat dan sesuai. Beberapa metode untuk pengawetan bahan pangan
adalah sebagai berikut.
1. Pengawetan dengan Suhu Rendah
Salah satu proses usaha untuk
mengawetkan adalah dengan menyimpan bahan makanan di dalam lemari pendingin
yaitu kulkas atau freezer (pembeku). Lemari pendingin
memiliki suhu yang rendah. Umumnya yang dimaksud dengan suhu rendah ini
berkisar antara -2°C sampai 8°C. Cara pengawetan pangan dengan suhu rendah ada
2 macam yaitu pendi- nginan
(cooling) dan pembekuan (freezing). Pendinginan yang biasa dilakukan
sehari-hari dalam lemari es pada umumnya mencapai suhu 5 sampai 8 C atau -2
sampai 8 C. Pembekuan adalah penyimpanan bahan pangan dalam keadaan beku.
Pembekuan yang baik biasanya dilakukan pada suhu -12 sampai -24 C. Pembekuan
cepat (quick freezing) dilakukan pada suhu -24 sampai -40 C.
Buah-buahan dan sayur-sayuran juga
memerlukan suhu penyimpanan tertentu. Suhu di mana produk mempunyai keawetan
yang paling lama disebut suhu optimum. Jika penyimpanan dilakukan di
bawah suhu optimum, atau di tempat yang terlalu dingin, buah-buahan dan
sayur-sayuran akan mengalami kerusakan fisik yang sering disebut chilling injury. Apabila
penyimpanan buah dan sayuran dilakukan di atas suhu optimum, atau pada suhu
yang terlalu hangat, juga tidak akan menghasilkan keawetan.
2. Pengawetan dengan Suhu Tinggi
Pengawetan
dengan suhu panas sebenarnya sudah lama digunakan, sejak manusia dikenalkan
dengan istilah memasak. Saat kamu memasak, misalnya merebus atau menggoreng
suatu bahan makanan, sebenarnya kamu sedang melakukan proses pengawetan dengan
suhu panas. Tetapi seringkali kita tidak mengetahui batasan pemanasan yang
dilakukan terhadap makanan. Jika pemanasannya tidak tepat, maka
akan banyak nilai gizi yang hilang dari makanan yang dimasak tersebut.
Pemanasan yang baik adalah secukupnya agar nilai gizi yang hilang tidak terlalu
banyak. Dua faktor yang harus diperhatikan dalam pengawetan dengan panas, yaitu
sebagai berikut.
1) Jumlah panas yang diberikan harus cukup
untuk mematikan mikroba pembusuk dan mikroba pathogen.
2) Jumlah panas yang digunakan tidak boleh
menyebabkan penurunan gizi dan cita rasa makanan.
Jumlah panas yang
diberikan dalam proses pengolahan pangan tidak boleh lebih dari jumlah minimal
panas yang dibutuhkan untuk membunuh mikroba yang dimaksud. Dalam proses
pemanasan, ada hubungan antara panas dan waktu, yaitu jika suhu yang digunakan
rendah, maka waktu pemanasan harus lebih lama. Jika suhu tinggi, waktu pemanasan
singkat. Sebagai contoh:
misalnya jumlah panas yang diterima bahan
jika kita memanaskan selama 10 jam di dalam air mendidih (100 C) kira-kira sama
dengan memanaskan bahan tersebut selama 20 menit pada suhu 121 C.
Berdasarkan penggunaan suhu, waktu dan tujuan pemanasan, proses pemanasan dapat
dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu proses pasteurisasi dan sterilisasi.
a.Sterilisasi
Istilah sterilisasi berarti membebaskan
bahan dari semua mikroba. Karena beberapa spora bakteri relatif lebih
tahan terhadap panas. Maka sterilisasi biasanya dilakukan pada suhu yang
tinggi misalnya 121 C (250 F) selama 15 menit. Pada makanan dikenal istilah
sterilisasi komersial. Sterilisasi komersial adalah sterilisasi yang biasanya
dilakukan terhadap sebagian besar pangan di dalam kaleng atau botol.
Makanan yang steril secara komersial berarti semua mikroba penyebab penyakit
dan pembentuk racun (toksin) dalam makanan tersebut telah dimatikan, demikian
juga semua mikroba pembusuk. Dengan demikian, produk pangan yang telah
mengalami sterilisasi akan mempunyai daya awet yang tinggi; beberapa bulan
sampai beberapa tahun.
b. Pasteurisasi
Pasteurisasi adalah suatu proses
pemanasan yang relatif cukup rendah (umumya dilakukan di bawah 100 C) dengan
tujuan untuk mengurangi populasi mikroorganisme pembusuk sehingga bahan pangan
yang dipasteurisasi tersebut akan mempunyai daya awet beberapa hari (misalnya produk
susu pasteurisasi) sampai beberapa bulan (misalnya produk sari buah
pateurisasi). Walaupun proses ini hanya mampu membunuh sebagian populasi
mikroorganisme, namun pasteurisasi ini sering diaplikasikan terutama jika
dikhawatirkan bahwa penggunaan panas yang lebih tinggi akan menyebabkan
terjadinya kerusakan mutu (misalnya pada susu).
Tujuan utama proses pemanasan hanyalah
untuk membunuh mikro-organisme pathogen (penyebab penyakit; misalnya pada susu)
atau inaktivasi (menghentikan aktivitas) enzim-enzim yang dapat merusak mutu
(misalnya pada sari buah).
Makanan yang dipasteurisasi tidak dapat
menyebabkan penyakit tetapi mempunyai masa simpan yang terbatas disebabkan
mikroba nonpatogen dan pembusuk masih ada dan dapat berkembang biak. Oleh
karena itu pasteurisasi biasanya disertai dengan cara pengawetan lain, misalnya
makanan yang dipasteurisasi kemudian disimpan dengan cara pendinginan (di dalam
lemari pendingin).
c. Blanching
Blanching adalah pemanasan
pendahuluan yang biasanya dilakukan terhadap buah-buahan dan sayur-sayuran
untuk menginaktifkan enzim-enzim di dalam bahan pangan tersebut, di antaranya
adalah enzim katalase dan peroksidase yang merupakan enzim-enzim yang paling
tahan panas di dalam sayur-sayuran. Blanching selalu dilakukan jika bahan pangan
akan dibekukan karena pembekuan tidak dapat menghambat keaktifan enzim dengan
sempurna. Bergantung pada panas yang diberikan, blanching juga dapat mematikan
beberapa mikroba. Blanching biasanya dilakukan pada
d. Sterilisasi Produk secara Sinambung
(Proses Aseptis) Pada prinsipnya, proses
sterilisasi dapat dilakukan dengan berbagai kombinasi suhu dan waktu. Jika
digunakan suhu yang lebih tinggi,
waktu
sterilisasinya makin pendek. Diketahui bahwa kombinasi suhu yang lebih tinggi
dan waktu pendek ini dapat memberikan keuntungan berupa mutu produk yang lebih
baik. Karena itulah, muncul konsep sterilisasi High Temperatur Short Time
(HTST) dan Ultra High Temperature (UHT). Pada kondisi ini, sterilisasi
dilakukan pada suhu 130-145 C tetapi hanya dalam beberapa detik saja. Karena
itu, diperlukan peralatan pemanasan yang mampu men- capai suhu tersebut dan
sekaligus secara cepat mampu mendinginkannya kembali. Pada sistem aseptik ini,
dilakukan proses sterilisasi produk pangan dan bahan pengemas (wadah) secara
terpisah. Pengisisan produk dilakukan setelah wadah dan produk terlebih dahulu
disterilisasikan sehingga untuk mempertahankan sterilitas produk dan wadah,
proses pengisian harus dilakukan pada ruangan yang steril. Karena itulah,
proses pengisian dan pengemasan dengan cara ini disebut sebagai proses
pengemasan aseptik karena memang diperlukan kondisi yang aseptik.
3. Pengawetan dengan Pengeringan
Saat petani padi tiba
waktunya untuk memanen hasil bertaninya, pernahkan kamu melihat hal apa yang dilakukan
petani tersebut dengan padi hasil panennya? Pernahkah kamu melihat petani
tersebut menjemur padi di bawah sinar matahari? Itulah salah satu contoh proses
pengeringan. Pengeringan adalah suatu metode untuk mengeluarkan atau
menghilangkan sebagian air dari suatu bahan dengan cara menguapkan air tersebut
dengan menggunakan energi panas. Biasanya kandungan air bahan tersebut
dikurangi sampai suatu batas agar mikroba tidak dapat tumbuh lagi di
dalamnya. Keuntungan produk hasil pengeringan adalah awet, lebih ringan,
volume lebih kecil sehingga memudahkan penyimpanan dan transportasi,
serta menimbulkan citarasa khas. Selain itu, banyak bahan yang hanya dapat
digunakan apabila telah dikeringkan, misalnya tembakau, kopi, teh, biji-bijian,
dan lain- lainnya. Pengeringan dapat berlangsung dengan baik jika
pemanasan secara merata, dan uap air dikeluarkan dari seluruh permukaan bahan
tersebut. Faktor-faktor yang memengaruhi pengeringan terutama adalah luas
permukaan bahan, suhu pengeringan, aliran udara, dan tekanan uap di udara.
Pengeringan dapat dilakukan dengan menggunakan suatu alat pengering (articial
drier), atau dengan
penjemuran (sun drying), yaitu pengeringan dengan menggunakan energi
langsung dari sinar matahari.
Pengeringan buatan (articial drying) mempunyai
keuntungan karena suhu dan aliran udara dapat diatur sehingga waktu pengeringan
dapat ditentukan dengan tepat dan kebersihan dapat diawasi sebaik-baiknya.
Penjemuran mempunyai keuntungan karena energi panas yang digunakan murah dan
bersifat murah serta melimpah, tetapi kerugiannya adalah jumlah panas sinar
matahari yang tidak tetap sepanjang hari, dan kenaikan suhu tidak dapat diatur
sehingga waktu penjemuran sukar untuk ditentukan dengan tepat. Selain itu,
karena penjemuran dilakukan di tempat terbuka yang langsung berhubungan dengan
sinar matahari, kebersihannya harus diawasi dengan sungguh-sungguh. Kadar
air suatu bahan yang dikeringkan memengaruhi seberapa jauh penguapan dapat
berlangsung, lamanya proses pengeringan dan jalannya proses pengeringan.
4. Pengawetan dengan Bahan Kimia
Pengawetan bahan pangan
dapat juga dilakukan dengan melakukan penambahan bahan kimia tertentu, yang
telah diketahui memiliki efek mengawetkan. Penggunaan bahan kimia untuk
pengawet harus digunakan dalam takaran yang tepat dan sesuai dengan ketentuan
agar aman bagi manusia.Pemberian Asam, Asam dapat menurunkan pH makanan
sehingga dapat menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk. Asam dapat dibagi dalam
3 golongan yaitu:
(1) asam alami yang pada umumnya adalah
asam organik misalnya asam tartrat dan asam dari buah-buahan, misalnya asam
sitrat seperti yang terdapat pada jeruk nipis dan belimbing wuluh;
(2) asam yang dihasilkan melalui proses
fermentasi, misalnya asam laktat dan asam asetat; dan
(3) asam-asam sintetik, misalnya asam
malat, asam fosfat, dan asam adipat. Cuka adalah asam sintetik yang dapat kita
temui sehari-hari.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pangan secara umum bersifat mudah rusak (perishable),
karena kadar air yang terkandung di dalamnya sebagai faktor utama penyebab
kerusakan pangan itu sendiri. Semakin tinggi kadar air suatu pangan, akan
semakin besar kemungkinan kerusakannya baik sebagai akibat aktivitas biologis
internal (metabolisme) maupun masuknya mikroba perusak.
untuk mengawetkan makanan dapat dilakukan dengan beberapa teknik
baik yang menggunakan teknologi tinggi maupun teknologi sederhana. Caranya pun
beragam dengan berbagai tingkat kesulitan. Namun inti dari pengawetan makanan
adalah suatu upaya untuk menahahn laju pertumbuham mikroorganisme pada makananm
jenis-jenis teknik pengolahan dan pengawetan makanan itu ada 5 :
1. pendinginan
2. pengeringan
3. pengalengan
4. pengemasan
5. penggunaan
bahan kimia
6. pemanasan
No comments:
Post a Comment